Kamis, 11 Februari 2016

UDHENG UMAT HINDHU MALANG



Saat shiwaratri, banyak sekali umat hindhu ke desa saya untuk sembayang pada dewa ganesha. Hal ini menurut saya adalah hal yang bagus, mengingat orang-orang jarang sekali yang peduli dengan situs peninggalan leluhur itu. Dengan diadakannya shiwaratri di desa saya, desa yang dulunya sepi, sekarang bisa ramai.Selain itu, ini juga bisa menjadi sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat karena masyarakat bisa menjual benda-benda untuk sembayang umat hindhu.


Dalam acara itu, semua orang memakai udheng tanpa kecuali. Selain acara keagaman orang hindhu, para budayawan dan seniman sekitar situ juga hadir guna menggali informasi mengenai sejarah leluhur. Salah satu informasi yang saya gali adalah cara membuat udheng umat hindhu di daerah malang. Di acara yang berlangsung tahun 2014 dan 2016, saya lihat tidak ada satupun peserta yang mengenakan udheng malangan walaupun sebagian besar peserta merupakan umat dari malang raya. Hal ini membuat saya bingung, kenapa udheng malangan yang berwarna kuning dengan batik malangan dijadikan ikon kota Malang.
Saat saya pergi untuk menemui teman saya yang bekerja di dinas terkait, dia mengaku tidak mengetahui alasan kenapa udheng bermotif malangan tersebut dijadikan ikon kota malang. Dia menyuruh saya bertanya kepada pencipta atau pembuatnya kenapa udheng itu yang dipilih. Hal yang membuat saya bingung adalah udheng tersebut diambil karena mayoritas orang menggunakannya, bentuknnya hanya ada di kota Malang, atau karena bentuk udheng demikian dengan motif malangan hanya ada di kota Malang.
ADA YANG BISA MENJAWABNYA?

MATUR SEMBAH NUWUN

1 komentar: