Rabu, 03 Februari 2016

MEMBANGKITKAN LONTAR JAWA



Hari ini saya ingin membahas tentang seni menulis tradisional Jepang yang disebut shodo. Seni tersebut sampai sekarang masih dijaga kelestariannya. Banyak di antara masyarakat jepang yang kebetulan hobi shodo, mendanai pelestarian kesenian tersebut, sehingga pemerintahpun bisa dibilang sangat terbantu dengan hal itu. Pengabdian masyarakat jepang terhadap kesenian tersebut menjadi inspirasi saya untuk membangkitkan kesenian menulis tradisional jawa yang disebut lontar.
Banyak di antara kita yang sering mendengar kata ini atau bahkan melihat lontar tersebut secara langsung. Namun, yang menjadi masalah bagi saya adalah adakah pelestari lontar di tanah jawa ini. Hal ini menurut saya sangat penting, mengingat pelestarian lontar ini tidak pernah terdengar gaungnya di internet, TV, atau media massa lainnya. Yang saya khawatirkan adalah kesenian ini sudah punah dan tak ada generasi muda yang mau membangkitkannya lagi.
Selain membangkitkan kesenian yang surut atau lenyap ditelan zaman, saya rasa kesenian ini juga bisa berdampak ekonomis di masyarakat. Mungkin di antara kita ragu apakah kesenian ini bisa mendatangkan pundi-pundi rupiah bagi kita. Kalau menurut saya pasti bisa. Contohnya saja bali, walaupun senimannya tidak terlalu banyak, namun seniman lontar ini ternyata bisa mendatangan rupiah dari lontar. Yang saya dengar dari internet, lukisan lontar sederhana bisa dihargai minimal Rp 200.000.
Lalu, masalah terbesarnya adalah maukah pemerintah terus bergerak untuk mencari penerus penulis lontar atau bahkan membangkitkannya sendiri ? Adakah dana untuk membangkitkan kesenian ini. Maukah kalangan muda menekuni profesi ini ? Selain pemerintah adakah yang mau mendanai atau bahkan turun langsung ke lapangan untuk mewariskan keahlian menulis lontar ?
Saya harap, di antara pembaca ada yang berminat untuk membangkitkan kesenian ini.

MATUR SEMBAH NUWUN

1 komentar: