Kamis, 11 Februari 2016

PELAN TAPI PASTI



Banyak di antara kita yang mungkin tidak tahu kalau udheng tradisional jawaterbuat dari kain segi empat yang kemudian dipakai dengan cara diikatkan di kepala si pemakai tanpa bantuan siapapun. Hal ini dikarenakan udheng-udheng yang ada di jawa sudah banyak yang dimodernisasi. Hampir semua promosi budaya udheng atau mungkin semua promosi udheng jawa menggunakan udheng modern dan bukan tradisional.
Di Jawa, mungkin masih banyak orang yang masih bisa membuat udheng tradisional, namun tidak semuanya menggunakannya untuk kegiatan sehari-hari. Di antara pelestari udheng itu jarang sekali yang mewariskan keahlian membuat udheng kepada anaknya. Mungkin alasannya adalah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Di zaman modern ini memang sangat aneh jika masih memakai udheng, inilah yang membuat udheng perlahan-lahan kehilangan ketenarannya di tanah kelahirannya sendiri.
Selama ini kita hanya focus pada budaya yang pelestarinya sangat sedikit atau yang sudah dinyatakan terancam punah, namun bagaimana nasib budaya yang pelestarinya masih banyak tapi mulai tidak dikenal. Proses hilangya udheng di tanah jawa terjadi sangat lambat, perlahan tapi pasti, sama seperti saudaranya yaitu batik. Perlahan tapi pasti batik mulai kehilangan ketenarannya, jangankan peduli atau prihatin, banayak orang ternyata yang menghina para pelestari batik. Seperti yang terjadi pada teman saya yang tinggal di Medan. Saat dia memakai batik ribuan hinaan datang padanya, namun apa yang terjadi saat batik diklaim Malaysia. Masyarakat yang dulunya menghina sekarang malah kebingungan melestarikan batik.
Kepunahan budaya yang berlangsung cepat memang sangat menghawatirkan, namun bukankah lebih berbahaya kepunahan yang berlangsung perlahan?
Sedikit demi sedikit, pelan tapi pasti, tak terasa budaya mulai hilang. Ketika tersadar kita baru tahu kita sudah tidak bisa membangkitkan kebudayaan itu atau bahkan budaya itu sudah berada di tangan Negara lain.

MATUR SEMBAH NUWUN

1 komentar: