Kamis, 10 November 2016

UDENG MALANGAN



APA PERBEDAAN UDHENG DAN BLANGKON?
Pada awalnya, blangkon tidak ada, yang ada hanyalah udheng. Udheng adalah ikat kepala orang jawa yang berukuran 100 cm x 100 cm atau 105 cm x 105 cm. Udheng berasal dari daerah jawa, tepatnya JAWA TIMUR. Udheng dikenakan dengan cara diikatkan dikepala dengan membuat bentuk tertentu yang memiliki makna yang mendalam sesuai daerah atau strata sosial dari si pemakai. Bentuk, udheng jawa ada 100 bentuk lebih, namun sekarang sudah hamper punah karena tidak ada yang berminat lagi.
Setelah belanda datang ke Indonesia, mereka memperkenalkan teknik cetak topi kepada orang Jawa. Setelah menguasainya, maka ilmu tersebut diterapkan pada ikat kepala jawa (udheng). Setelah itu, udheng yang dulunya diikatkan, dicetak seperti topi agar lebih mudah untuk dipakai. Kemudian muncullah istilah blanco yang diambil dari bahasa belanda yang berarti cetak.

*Kesimpulan:
1.   Blangkon adalah bentuk cetak dari udheng.
2.   Udheng terbuat dari kain segi 4 atau segi 3 yang kemudian diikatkan di kepala, sedangkan blangkon dipakai seperti memakai topi.
3.    
UDHENG
Udheng dibuat dari selembar kain yang kemudian diikatkan di kepala sehingga membentuk bentuk tertentu.





BLANGKON
Bila sudah dalam bentuk jadi,maka disebut blangkon.

Blangkon Khas Sunda



Blangkon Khas Surabaya

Blangkon Khas Banyuwangi

Blangkon Khas Ponorogo


Apa perbedaan udheng dan iket?

UDHENG/IKET
1.   UDHENG: Berasal dari kata udheng yang berarti paham atau mudheng.
2.   IKET: Iket berasal dari kata iket atau ikat yang bermakna mengikat hawa nafsu yang berpusat di kepala.
Udheng dan iket merujuk pada benda yang sama. Berikut ini adalah bentuk-bentuk dari udheng atau iket:
Udheng khas Malang dinamakan udheng kemplengan. Berikut ini adalah keterangan mengenai udheng kemplengan tersebut:
KEMPLENGAN

FILOSOFI
 
*Gunungan:

Udeng khas Malang - Udeng Kemplengan
Gunungan yang terdapat pada baguan belakang udheng melambangkan kekuatan rakyat jawa yang kokoh bagai gunung dan juga merupakan lambang harapan yang tinggi.
*Jeprakan:
Jeprakan pada sisi kanan dan kiri memiliki tinggi yang sama, melambangkan keseimbangan pada hidup yang berarti kita harus adil atau seimbang dalam melakukan sesuatu.
*Puteran:
Pada bagian depan, udheng diputar, ini melambangkan keterkaitan pada hal-hal yang berkebalikan itu tidak bisa dipisahkan, misalnya: siang-malam, baik-buruk, tua-muda, dll.
*Tali wangsul:

Udeng khas Malang - Udeng Kemplengan
Lambang orang jawa yang mana saat meninggal nanti akan wangsul atau pulang ke sang pencipta. Ikatan yang dihadapkan ke atas juga bermakna kita harus ingat kepada Tuhan.



Berikut ini adalah tutorial udheng kemplengan khas Malang:

1 komentar: