Senin, 13 November 2017

MALANG TEMPOE DOELOE-PENGALAMAN TAK TERLUPAKAN


Kemarin minggu tanggal 12 November saya ke Malang Tempoe Doeloe yang mana merupakan event tahunan kota Malang. Di sana banyak sekali pedagang yang menjual barang barang kuno, dai uang, kue, batik, dan lain-lain. Barang-barang tersebut tentunya bisa menjadi pembelajaran bagi anak-anak tentang benda-benda tempo dulu dan menjadi ajang nostalgia bagi orang tua.
Di acara tersebut terlihat banyak orang yang memakai busana tradisional Jogja dan Solo, mereka begitu antusias mengenakannya. Namun, saying sekali jarang yang memakai baju tradisional Malang. Hal ini tentu sangat aneh, mengingat ini adalah ajang promosi Malang. Saat saya Tanya seorang pedagang kenapa memilih baju adat Jawa tengahan, pedagang tesebit berkata bahwa dia tidak tahu busana adat Malang walaupun dia asli Malang.
Ini membuat saya miris, bagaimana mungkin orang asli malang tak tahu baju adatnya sendiri tapi tahu banyak mengenai baju adat daerah lain. Saat saya Tanya kenapa bisa mengenakan udeng jateng, tapi kok tidak tahu udeng jatim, pedagang tersebut menjawab bahwadia cari di internet adanya itu. Sekali lagi saya merasa miris dengan budaya Malang.
Kemudian, yang membuat saya miris lagi adalah banyaknya orang yang tak tahu cara memakai jarik dengan benar. Bukannya kalau wanita diakhiri dari sebelah kiri dan pria dai sebelah kanan, namun banyak juga yang keliru. Miris ditambah bingung.
Pertanyaan saya yang ingin saya tanyakan ke DISBUDPAR Kab Malang atau Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang adalah “Apakah selama ini tidak ada sosialisasi mengenai baju tradisional malang ke Sekolah, Kantor Dinas, Dan lain-lain?”

MATUR SEMBAH NUWUN



Kemarin minggu tanggal 12 November saya ke Malang Tempoe Doeloe yang mana merupakan event tahunan kota Malang. Di sana banyak sekali pedagang yang menjual barang barang kuno, dai uang, kue, batik, dan lain-lain. Barang-barang tersebut tentunya bisa menjadi pembelajaran bagi anak-anak tentang benda-benda tempo dulu dan menjadi ajang nostalgia bagi orang tua.
Di acara tersebut terlihat banyak orang yang memakai busana tradisional Jogja dan Solo, mereka begitu antusias mengenakannya. Namun, saying sekali jarang yang memakai baju tradisional Malang. Hal ini tentu sangat aneh, mengingat ini adalah ajang promosi Malang. Saat saya Tanya seorang pedagang kenapa memilih baju adat Jawa tengahan, pedagang tesebit berkata bahwa dia tidak tahu busana adat Malang walaupun dia asli Malang.
Kemarin minggu tanggal 12 November saya ke Malang Tempoe Doeloe yang mana merupakan event tahunan kota Malang. Di sana banyak sekali pedagang yang menjual barang barang kuno, dai uang, kue, batik, dan lain-lain. Barang-barang tersebut tentunya bisa menjadi pembelajaran bagi anak-anak tentang benda-benda tempo dulu dan menjadi ajang nostalgia bagi orang tua.
Di acara tersebut terlihat banyak orang yang memakai busana tradisional Jogja dan Solo, mereka begitu antusias mengenakannya. Namun, saying sekali jarang yang memakai baju tradisional Malang. Hal ini tentu sangat aneh, mengingat ini adalah ajang promosi Malang. Saat saya Tanya seorang pedagang kenapa memilih baju adat Jawa tengahan, pedagang tesebit berkata bahwa dia tidak tahu busana adat Malang walaupun dia asli Malang.
Ini membuat saya miris, bagaimana mungkin orang asli malang tak tahu baju adatnya sendiri tapi tahu banyak mengenai baju adat daerah lain. Saat saya Tanya kenapa bisa mengenakan udeng jateng, tapi kok tidak tahu udeng jatim, pedagang tersebut menjawab bahwadia cari di internet adanya itu. Sekali lagi saya merasa miris dengan budaya Malang.
Kemudian, yang membuat saya miris lagi adalah banyaknya orang yang tak tahu cara memakai jarik dengan benar. Bukannya kalau wanita diakhiri dari sebelah kiri dan pria dai sebelah kanan, namun banyak juga yang keliru. Miris ditambah bingung.
Pertanyaan saya yang ingin saya tanyakan ke DISBUDPAR Kab Malang atau Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang adalah “Apakah selama ini tidak ada sosialisasi mengenai baju tradisional malang ke Sekolah, Kantor Dinas, Dan lain-lain?”

MATUR SEMBAH NUWUN


Ini membuat saya miris, bagaimana mungkin orang asli malang tak tahu baju adatnya sendiri tapi tahu banyak mengenai baju adat daerah lain. Saat saya Tanya kenapa bisa mengenakan udeng jateng, tapi kok tidak tahu udeng jatim, pedagang tersebut menjawab bahwadia cari di internet adanya itu. Sekali lagi saya merasa miris dengan budaya Malang.
Kemudian, yang membuat saya miris lagi adalah banyaknya orang yang tak tahu cara memakai jarik dengan benar. Bukannya kalau wanita diakhiri dari sebelah kiri dan pria dai sebelah kanan, namun banyak juga yang keliru. Miris ditambah bingung.
Pertanyaan saya yang ingin saya tanyakan ke DISBUDPAR Kab Malang atau Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang adalah “Apakah selama ini tidak ada sosialisasi mengenai baju tradisional malang ke Sekolah, Kantor Dinas, Dan lain-lain?”

MATUR SEMBAH NUWUN



Tidak ada komentar:

Posting Komentar