Minggu, 04 September 2016

UDHENG MALANG YANG TERLUPAKAN



Udheng adalah kebudayaan orang jawa yang berumur sangat lama. Udheng bukan hanya sekedar ikat kepala, di dalamnya terdapat falsafah hidup yang sangat mendalam. Di bali udheng sangat umum digunakan oleh masyarakatnya dan sudah menjadi cirri khas Pulau Dewata tersebut. Begitu juga dengan bandung yang saat ini sedang gencar mempromosikan ikat kepala yang beraal dari daerahnya yang bernama totopong atau iket. Kedua daerah tersebut saat ini sedang gencar-gencarnya mempromosikan ikat kepala dari daerahnya tersebut, terutama yang tradisional kepada masyarakat.
 




Di malang, kita mengenal udheng malangan yang “KATANYA” bentuk dan cara memakainya mirip blangkon. Bentuknyapun juga mirip dengan odeng dari Madura atau udeng dari Surabaya. Namun, yang membuat saya bingung, kenapa benda seperti blangkon itu menjadi ikon kota Malang, apakah bentuknya hanya itu. Sampai sekarang saya masih belum menemukan bukti tertulis. Saya juga telah mencari penelitian atau sejarah benda mirip blangkon yang berasal dari kota Malang tersebut, namun hasilnya bisa dibilang tidak ada.
Kenyataan di lapangan, saya menemukan bukti bahwa udheng malangan yang ada di Malang jumlahnya sangat beragam dan sangat berbeda dengan yang selama ini dipromosikan pemerintah atau DISBUDPAR Malang. Contohnya di Desa saya saja, yaitu Karang Kates ada tiga jenis, belum lagi dari desa tetangga yang jumlahnya saat saya lihat pada acara karnaval, jaranan, dan lain-lain jumlahnya sangat banyak. Hal ini juga menjadi pertanyaan di benak saya. Kenapa udheng-udheng tersebut tidak menjadi ikon kota malang atau tidak dipromosikan besar-besaran sebagai warisan budaya Malang.
Saat ini, udheng-udheng yang jumlahnya sangat banyak tersebut belum mendapat pengakuan dari pemerintah. Saya lihat jumlah penggunanya terus menurun. Belum lagi kesan negative pengguna ikat kepala ini yang juga menyumbang kemrosotan jumlah penggunanya. Saat ini, saya dan beberapa gelintir teman saya yang tidak lebih dari 5 orang  berusaha menghidupkan udheng yang tradisional agar tidak tergeser oleh udheng modern. Walaupun belum mendapat dukungan dari DISBUDPAR Malang, namun kami akan mempromosikan udheng ini.
Bahkan salah seorang teman saya yang keturunan Jawa dari Malaysia pun berniat ingin melestarikan udheng ini dengan meminta bantuan pada kelompok adat Jawa di Malaysia. Hal ini menambah angin segar kebangkitan udheng jawa yang hampir punah.

MATUR SEMBAH NUWUN

2 komentar: