Selasa, 15 September 2015

PEMOPULERAN HANACARAKA


Pemerintah pasti tahu tentang hanacaraka, begitu pula dengan masyarakat. Hal umum yang pastinya  sudah diketahui oleh seluruh staf di Dinas Kebudayaan khususnya malang atau bisa dibilang seluruh staf pastinya sudah hafal di luar kepala alias bisa menulis hanacaraka dengan cepat secepat menulis aksara Indonesia. Namun, walaupun seluruh staf DISBUD (Dinas Kebudayaan) hafal, yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, apakah masyarakat hafal dengan aksara jawa atau yang lebih dikenal sebagai HANACARAKA ini. Itulah pertanyaan besar yang harus kita jawab sekarang ini.
Dalam rangka mempopulerkan kembali aksara jawa yang sudah lama ditinggalkan, saya berusaha mencari cara agar aksara ini bisa lebih dikenal lagi. Cara yang saya lakukan untuk mempopulerkan kembali ada 2 cara, yaitu cara modern dan tradisional. Namun, kedua cara tersebut membutuhkan dukungan dari DISBUD, oleh karena itu saya berharap DISBUD sudi membantu mempopulerkan kambali aksara jawa. Berikut ini adalah cara-cara mempopulerkan aksara jawa tersebut.
Cara yang pertama adalah dengancara yang saya sebut modern. Cara ini mungkin sudah dilakukan oleh seseorang, yaitu dengan membuat FONT aksara jawa, namun program Font tersebut memiliki kelemahan, yaitu saat dipakai dalam percakapan di internet, seperti FB, SMS, GOOGLE, TWITTER, dll. Oleh karena itu, saya berharap pemerintah dapat membuat sebuah program yang dapat dipakai di GOOGLE, FB, TWITTER, dll. Tujuan utamanya adalah membuat masyarakat yang ingin belejar atau berkomunikasi dengan menulis aksara jawa, dapat langsusng menulisnya di internet.
Mungkin, pembaca masih bingung dengan program yang saya maksud. Program yang saya maksud adalah program pilihan bahasa seperti di program komputer. Di komputer umumnya ada pilihan memakai aksara apa untuk menulis, pilihannya umumnya terletah di kanan bawah komputer anda. Di situ terdapat pilihan untuk menulis dengan aksara Jepang, Korea, Inggris, Tailan, dll. Jadi saya berharap pemerintah, terutama disbud agar dapat mengembangkan aksara tersebut hingga ke tahap seperti itu yang mana nantinya dapat dipakai berkomunikasi di dunia maya oleh para pembelajar atau pecinta budaya, khususnya aksara jawadan membuat warga keturunan jawadi negara seperti Suriname, Malaysia, Tailan, dan negara lain yang memakai bahasa jawa dapat mempelajari budaya leluhurnya, khususnya aksara jawa.
Cara kedua yang kedua adalah dengan cara tradidional. Cara ini sebenarnya pernah dilakukan, namun bukan di tanah jawa ini, namun di pulau dewata atau Bali. Cara tersebut adalah dengan mempopulerkan media daun lontar yang dulu pernah dipakai leluhur kita. Sebelum saya bercerita mengenai pengembangan cara menulis tradidional di tanah jawa, saya ingin bercerita tentang pengembangan cara menulis tradisional di negara jepang yang sekarang bisa dibilang sangat populer di negaranya ataupun di luar negeri.
Di jepang menulis tradidional disebud shodo. Menulis dengan cara tradisional ini adalah dengan menggunakan sebuah kuas tradisional yang berasal dari Cina di atas sebuah kertas dan dengan menggunakan tinta yang diramu sendiri. Nah, seninya adalah pada keindahan bentuk-bentuk huruf yang katanya semakin jelek semakin indah. Saya berharap cara menulis aksara jawa kita di atas daun lontar dapat populer juda di tanah kelahirannya seperti halnya Shodo di Jepang.
Di Bali, menulis di atas daun lontar sudah sampai tahap pengenalan ke Sekolah-sekolah. Dengan begitu, anak di Bali tidak akan lupa dengan aksara daerahnya. Hal yang sama ingin juga saya terapkan di Tanah Jawa ini. Jadi, menulis aksara jawa di atas daun lontar atau  nglontar, tidak semembosankan yang dibayangkan, karena prinsip menulisnya adalah sekreatif mungkin, jadi, selain menulis, kita juga bisa menggambar di atas daun lontar, menambahkan gambar-gambar unik di samping aksara yang telah kita tulis, dll.

MATUR SEMBAH NUWUN

1 komentar: