Minggu, 21 Desember 2014

SIAPA SEBENARNYA WAROG?


Warog……mungkin kata ini sudah tidak asing lagi bagi pecinta budaya, khususnya budaya jawa. Namun, pernahkah kita bertanya, siapa sebenarnya warog itu?.................Hari ini saya ingin berbagi pengetahuan tentang warog yang saya dapat dari orang dari Gunung Kawi. Baiklah, untuk mempersingkat waktu langsung saja kita bahas.

Warog merupakan orang berkasta ksatriya yang memiliki ilmu lebih tinggi dari orang biasa. Karena ilmunya, warog banyak menjabat sebagai prajuri, pejabat, atau petinggi di suatu daerah, namun kadang ada juga yang menjadi rakyat jelata tapi kebanyakan menjadi panglima perang atau pejabat pemerintahan.
Hal yang mengejutkan lagi adalah walaupun bertampang seram, berjenggot, namun warog sebenarnya masih keturunan raja. Lalu kenapa tidak ada yang menjadi raja? Sebenarnya, banyak dari warog yang menjadi raja, namun tidak semua dikarenakan jumlah warog sangat banyak dan mustahil setiap warog menjadi raja.
Pakaian yang dikenakan warog hampir sama dengan yang dikenakan oleh warog pada pertunjukan reog ponorogo, yaitu memakai baju berwarna hitam seperti orang Madura, celana yang dipakai ada yang celana kolor dan ada pula celana unjuk-unjuk seperto orang Madura dan memakai sabuk kulit seperti orang madura. Yang membedakannya adalah warna kaus yang dipakai bukan merah putih, melainkan hanya berwarna putih.
Udheng atau iket yang dipakai warog adalah berwarna hitam dengan motif batik berwarna putih. Maaf jika informasinya hanya sedikit.
MATUR SEMBAH NUWUN

Sabtu, 20 Desember 2014

PERKEMBANGAN PAKAIAN ADAT JAWA TIMURAN


Kalau sebelumnya saya sering sekali membahas tentang udheng, kali ini kita akan membahas baju dan clana adat jawa timuran, khususnya di daerah Malang. Seperti yang kita tahu, sesuatu berkembang seiring perkembangan zaman. Hal ini, dikarenakan teknologi semakin berkembang dikarenakan manusia semakin pintar dan cerdas. Hal ini juga berlaku pada pakaian adat. Pakaian adat ternyata juga mengalami perkembangan sesuai zamannya. Baiklah, untuk mempersingkat waktu langsung saja kita bahas.
Pada awalnya pakaian adat orang  jawa di Jawa Timur, memiliki warna hitam atau bisa dikatakan warna yang aling sering dipakai adalah hitam. Warna hitam dipilih karena melambangkan kebijaksanaan. Jadi, warna hitam  adalah simbol dari tanah. Menurut orang jawa, orang yang paling bijaksana adalah orang yang dekat dengan tanah atau mendekati kematian. Yang dimaksud disini bukanlah orang yang sedang sakit keras, namun orang yang dianggap bijaksana adalah orang yang paling tua. Oleh karena itu, orang yang selalu dimintai pendapat adalah sesepuh desa atau orang yang paling tua di suatu desa atau tempat.
Warna lain yang dipakai adalah putih yang memiliki makna kesucian dan kuning atau oranye yang sering dipakai di daerah malang yang memiliki makna kedewasaan. Hal yang ingin saya tekankan di sini adalah setiap warna memiliki makna tersendiri.
Hal berikutnya yang ingin saya bahas di sini adalah masalah kerah. Pakaian adat jawa timur ada yang berkerah dan ada yang tidak. Kemudian, jumlah saku ada 3, di atas kiri dan di samping bawah kanan dan kiri. Ketiga saku ini, pada awalnya tanpa tutup, hal ini mungkin dikarenakan di zaman itu belum banyak copet. Pada zaman tersebut, ada yang memakai kerah dan ada yang tidak, tidak seperti zaman sekarang yang semuanya berkerah.
BAJU ADAT KHAS MALANG-BAJU ADAT JAWA TIMUR
Selanjutnya, kita bahas bagian bawah. Yang pertama adalah celana. Warna celana yang dipakai sama seperti warna baju, yaitu hitam, putih, dan oranye atau kuning. Celana pada zaman dulu tidak sepanjang sekarang, namun hanya sepanjang celana ¾ atau sepanjang betis. Hal yang sangat mengejutkan ketika saya ke gunung kawi dan bertanya pada orang-orang di sana adalah celana zaman culu memiliki belahan di bagian samping pada kaki kanan dan kiri. Jadi jumlah belahan ada 4 buah, di kaki kanan, terletak pada samping kanan dan kiri kaki kanan dari lutut hingga bawah atau betis. Belahan pada bagian kiri juga sama seperti bagian kanan. Belahan ini, dibuat agar saat duduk atau menekuk kaki lebih enah.
Pada perkembangannya, pakaian adat jawa timuran mengelami perkembangan. Baju yang pada awalnya ada yang berkerah dan ada yang tidak, sekarang hamper atau bahkan semuanya berkerah, mungkin agar terlihat lebih resmi. Kantung samping yang dulunya tanpa penutup, sekarang semuanya memiliki penutup. Celana yang dulunya sepenjang betis dan memiliki belahan pada samping, sekarang sepanjang mata kaki dan tidak memiliki belahan.
BAJU ADAT KHAS MALANG-BAJU ADAT JAWA TIMUR
MATUR SEMBAH NUWUN

Jumat, 19 Desember 2014

APAKAH UDHENG BERMOTIF BATIK MALANGAN BENAR-BENAR ADA?


Kalau sebelumnya kita membahas atau menjelaskan udheng jawa beserta filosofi yang terkandung di dalamnya, hari ini kita akan mengajak para pembaca untuk berfikir, memberi pendapat, dan  mengoreksi jika ada yang salah. Tema kali ini mungkin sedikit rumit, sulit, dan bahkan menantang untuk dibahas. Baiklah, kali ini kita akan mengoreksi kembali tentang motif udheng malangan yang sering dipromosikan.
Pertama-tama saya ingin membahas tentang motif udheng malangan. Seperti yang kita tahu bahwa udheng memiliki banyak motif, setiap motif memiliki makna tersendiri, ditambah lagi motif batik yang ada pada udheng juga bisa mengidentifikasi atau menjadi ciri khas suatu suku atau asal daerah. Seperti baduy luar yang berwarna biru dan baduy dalam putih.
Pada zaman sekarang, setiap daerah baik kota atau desa menonjolkan motif udheng khas daerahnya yang tentunya berbeda dari daerah lain. Sepertimotif madura yang identik dengan warna merah. Hal ini dimaksudkan agar daerah tersuebut lebih populer dikarenakan memiliki ciri yang mencolok jika dibandingkan dengan daerah lain.
Salah satu jenis udheng yang terkenal adalah udheng jawa timuran yang memiliki bentuk seperti blangkon namun bagian depan memiliki tonjolan. Di daerah malang, juga terdpat udheng serupa, namun memiliki motif yang khas yang disebut batik malangan dengan warna dominan oranye atau kuning. Udheng dengan motif ini diangkat karena cuma malanglah yang memiliki motif  batik tersebut.
Hal yang ingin saya bahas kali ini adalah “apakah udheng bermotif malangan benar benar ada?“. Hal ini menjadi masalah karena saya tidak pernah melihat UDHENG TRADISIONAL BERMOTIF MALANGAN (BUKAN MODEREN) yang berumur cukup tua yang bisa menjadi acuan bahwa benda tersebut benar-benar ada. Hal yang mungkin membuat saya ragu lainnya adalah keterangan dari orang-orang adat atau orang-orang yang dulunya pernah memakai udheng TRADISIONAL (BUKAN MODEREN) yang menyatakan bahwa mereka belum pernah melihat udheng dengan motif batik malangan. Lantas, dari mana asal udheng bermotif (bukan bentuk) malangan? Padahal, menurut mereka motif udheng bermacam-macam dan mereka tidak pernah melihat udheng (bukan motif jarik) bermotif malangan, lalu kenapa yang diangkat menjadi ciri khas malang adalah udheng bermotif malangan yang mungkin bukan motif mayoritas di daerah Malang.
Jika motif udheng tersebut bukan mayoritas, kenapa kita tudak mengangkat bentuknya (bukan motif) saja sebagai identitas orang malang. Di sini saya tidak pernah bilang bahwa udheng bermotif malangan tidak pernah ada, namun saya hanya bilang bahwa saya tidak pernah melihat udheng tradisional bermotif malangan yang berumur cukup tua, dan lagi menurut saksi orang adat yang pernah hidup di zaman dulu, mengaku tidak pernah melihat udheng bermotif malangan.
Jika di antara pembaca ada yang memiliki udheng (tradisional) bermotif malangan, silakan tag foto atau menghubungi saya sebagai tambahan informasi, karena selain sumber yang saya pakai terbatas, bukti-bukti sejarah yang saya punya atau di lingkungan saya sudah banyak yang hilang.
MATUR SEMBAH NUWUN

Selasa, 02 Desember 2014

TUTORIAL MEMBUAT UDHENG JAWA (1)

Sebelumnya, telah dibahas mengenai jenis-jenis udheng atau iket khususnya jawa. Jadi orang jawa tidak hanya punya 1 jenis udheng, namun udheng jawa memiliki banyak jenis  atau bentuk dan setiap orang atau keluarga memiliki detail pemakaian yang berbeda-beda walaupun menggunakan udheng yang sama. Nah, kali ini, kita akan belajar membuat salah satu udheng jawa.

Cara paling mudah untuk membentuk sebuah udheng adalah dengan diletakkan atau dilipat di atas lantai sebagai berikut. Jadi, pertama-tama, letakkan dan bentangkan kain udheng di atas lantai seperti gambar di bawah ini.



Langkah nomor 2 adalah dengan melipat udheng menjadi berbentuk segitiga seperti gambar di bawah ini.


1

Anda dapat menarik bagian BELAKANG udheng seperti gambar kanan atas atau membiarkannya saja. Dikarenakan dalam membuat udheng terdapat banyak versi, anda dapat memmakai salah satu versi.  Langkah selanjutnya adalah melipat udheng seperti gambar di bawah ini.

3

 4

5

Setelah melipat seperti gambar di atas, langkah selanjutnya adalah mengikatkan udheng di kepala anda seperti gambar di bawah ini.

 6
Bagian segitiga diletakkan di depan dan diikat pada bagian depan seperti gambar di atas. 

Gambar di bawah adalah gambar udheng sebelum diikat tampak bawah kanan dan kiri



Langkah terakhir adalah dengan mengikatkan ujung udheng menghadap keatas seperti gambar di bawah ini dan BUKAN KE BAWAH.

Tampak Samping

Tampak Depan

Udheng jenis ini , segitiganya bukan hanya yang berdiri saja, namun juga ada yang segitiganya diturunkan seperti di bawah dan juga dimiringkan ke kanan atau kiri.

.

Nah anda sekarang siap bergaya dengan udheng anda……..HEHEHEHEHEHEHE…………..!!!!!!!!
MATUR SEMBAH NUWUN